← Back to Discourse
Jakarta, 22 Juli 2026
Ubah Mengubah, Diubah Segan Berubah, Hingga Terubahkan oleh Waktu
Olah batin dengan jalan kaki
Esai sejumlah 50 buah foto ini merupakan hasil seleksi 423 foto dari tahun 2021-2026 tentang
Passenger Information System (PIS), Urban Signage dan Urban Graphic. Foto
dibuat dari sudut pandang seorang flâneur, yang daripada berkendara, lebih memilih untuk
berkelana dalam perjalanan olah batin di ruang urban, dengan singgah di aneka moda transportasi
umum, sebagai kuilnya.
Sebagaimana ada banyak hal yang berubah dari ruang kota, demikian pula isi batin kita yang makin
selektif terhadap sebagian besar omong kosong yang dijejalkan dalam pikiran kita atas nama
jargon-jargon pertumbuhan dan kemajuan. Celoteh tong itu nyaring bagi para pencapai hidup ala-ala
dengan KPI dari media sosial. Mungkin, itulah etika dan integritas bagi para
pencapai, but it’s not for me.
Bagi saya, kemajuan diri sejak dari pandemi tampaknya hanya terjadi pada lemak visceral di
perut dan
pertumbuhan angka timbangan dan ukuran celana. Ini masalah yang harus dipersoalkan dan segera
dipecahkan! Konon katanya, dengan memperbanyak berjalan kaki.
Voilà, jadilah saya pejalan kaki, flâneur, pengolah batin, pemotret atas nama
persoalan kemajuan! Kesenangan menjadi keniscayaan.
Jalan kaki, membuat batin saya ayem, tapi tidak membuat otak saya legawa untuk diam saja. Ia makin
aktif mengamati, mengagumi, menghayati, seimbang dengan celetuk, judging, dan cecar. Tentu
saja, saya memotret hal-hal yang saya anggap perlu, janggal, lucu, mungkin menarik untuk dibagikan
atau ditelisik. Memotret hal-hal remeh yang tidak lagi perlu untuk diingat, sebagai sebuah
kesenangan batin.
Memotret untuk melupakan
Satu dekade sebelum foto-foto ini dibuat, saya mengalami kesulitan untuk mengingat hal yang harus
diingat dan melupakan hal yang (se)harus(nya) dilupakan. Fotografi dengan hape merupakan jalan
keluar yang paling efisien buat masalah ini. Saya memotret sebagai upaya untuk melupakan yang saya
potret sekaligus berusaha mengingat yang tidak saya potret.
Olah batin dengan berjalan kaki dan menggunakan aneka moda transportasi umum, pikiran-pikiran yang
bermunculan seperti tingkat kelahiran di peternakan kelinci ini tersalurkan. Lemak visceral
berkurang drastis, sejalan dengan menurunnya angka timbangan, dan diameter lingkar perut saya
berhasrat kembali untuk bekerja sama dengan ukuran celana pada masa jaya-jayanya diri ini. Bonusnya,
angka sistolik dan diastolik terkendali. Sebaliknya, folder dan konsumsi digital storage
saya membengkak seiring makin banyaknya hal yang ingin saya lupakan.
Saya memotret banyak bagian dari kota kelahiran saya, kota ini dan itu, orang-orangnya,
kelompok-kelompoknya, cangkeman-nya, pengalamannya, ilmunya, konflik-konfliknya,
kekonyolannya, kesenangannya, institusi-institusinya, diskusinya, aktivitasnya, pencapaiannya dan
segala sesuatu yang tadinya pernah saya sukai, hormati dan romantisir sebagai situs pelabuhan
terakhir dalam hidup. Kini semuanya itu saya potret dan lupakan. Semuanya itu tidak lagi mampu
beresonansi lagi di batin saya.
Menguak Lupa
Gajah selalu ingat, saya sudah lupa, tapi foto-foto di digital storage keji.
Kepingan-kepingan imaji-imaji yang terserak di dalam digital storage itu menerjang dengan
bergerbong-gerbong perasaan dan seduhan emosi yang menggelegak saat itu, bergerak kembali seperti
Zombie. Bagi saya, yang lupa, dilupakan dan terlupakan, merongrong kembali menjadi persoalan
berganda. Persoalan lama yang di-normalized merupakan persoalan baru yang tak pernah usai
kemudian.
Fotografi selalu terdepan, dipercaya, menjadi alat bukti sahih yang menghadirkan masa lalu, yang
persoalannya yaaa... di situ-situ lagi, di situ-situ aja, dengan aneka wahana
bentuk objek, subjek pelaku, konteks zaman yang berbeda-beda. Kumpulan foto ini diajukan agar saya
tidak lagi perlu
(merasa) sendirian menyusuri jalan batin di ruang urban, sebagai pelupa maupun pengingat.
Saya yakin banyak flâneur pemotret atau pejalan kaki yang observatif, atau mungkin yang
sekedar kerap misuh-misuh dalam batin saat betis sudah pegal kesasar lewat akses
muter-muter ke kuil
moda transportasi umum atau saat toiletnya sedang rusak ketika hajat sudah di tepi jurang. Bisa kok,
kita bersama-sama menyuarakan problem finding dan menggerakkan kemungkinan problem
solving atas masalah-masalah berulang tersebut, tanpa perlu menjadi peneliti, aktivis
advokasi, tapi hadir sebagai manusia yang berinteraksi di ruang urban untuk menyuarakan yang
terlupakan.
Foto-foto ditampilkan bersama takarir imaji yang berisikan celoteh dan komentar yang ekspresif yang
dihadirkan kembali dari ingatan dan emosi yang muncul saat foto itu dipotret. Sedapat mungkin
komentar panjang yang bersifat formal, terlalu konseptual atau teoritis dihindarkan, demi upaya
untuk melupakan. Tanggal pemotretan akan disertakan.
Mengingat sebagai penutup
Olah batin dapat berarti kesabaran, dan ketekunan dalam aktivitas sederhana di ruang urban, termasuk
berjalan kaki, menumpang angkutan umum memotret, dan mengamati. Perubahan ruang urban, baik
sistemik, eksperimental maupun sporadis itu niscaya. Tapi ketetapan batin yang sabar dan tekun itu
menjadi penting. Dari pengalaman ini, memotret untuk melupakan, lalu mengingatnya kembali merupakan
aktivitas yang lazim, seperti halnya membuka galeri (atau album) foto untuk melihat wajah-wajah dan
pengalaman di masa lalu.
Sebagai perangkat metodologis dalam kerangka berpikir, foto memberikan keleluasaan bagi pengamat
ruang urban sebagai arsip visual. Namun, untuk olah batin, fotografi adalah persoalan batiniah yang
mungkin lupa untuk diolah, atau ditunda. Seandainya kumpulan foto ini saya maknai 2 atau 3 tahun
lalu, hasilnya akan sangat berbeda. Batin saya belum cukup ayem dan pikiran saya belum
cukup legawa untuk bersitegang dengan persoalan-persoalan remeh yang mungkin sebaiknya
dilupakan saja. Toh, tak akan ada yang mengingat, memotret, merekam, atau membicarakannya,
sebagaimana sebagian dari mereka terlupakan dan dilupakan dalam perubahan yang dinamis.
Lupa, menjadi proses kognitif yang signifikan untuk kemajuan dan pertumbuhan, tapi tidak demikian
halnya dengan mengingat. Ingatan tampaknya lebih lekat dengan bagian proses olah batin untuk
bergantian bersitegang dengan perasaan lalu dengan emosi dalam diri. Mungkin untuk urusan rasa, seni
tampaknya mampu memberikan respon atas persoalan desain komunikasi visual (DKV) dalam
Environmental Graphic Design (EGD), hingga persoalan urban yang kompleks, maupun persoalan
keseharian dari perspektif alternatif.
PIS yang pada prinsipnya membantu penumpang mengarungi moda transportasi umum, terbentuk oleh
strategi urutan remah-remah informasi (breadcrumbs), identifikasi dan persuasi. Papan-papan
Direktori, Penanda, Pemandu, Pemasti, maupun bagaimana penumpang menindaklanjutinya, hingga
akal-akalan visual bikinan para pelaksana atau komunitas masyarakat yang peduli dengan perasaan
penumpang saat perubahan sistem terjadi, yang terekam dalam kumpulan foto, menunjukkan bagaimana
kolase identitas yang sulit untuk dipisahkan dalam kotak-kotak kategori. Jika aktivitas melupakan
dan mengingat ini dapat secara kolektif dikolasekan, maka diskusi tentang kemajuan dan pertumbuhan
(baca: perubahan [shift]) mungkin akan terasa signifikan untuk mengidentifikasi dan
memahami hal-hal sepele namun terasa amat penting bagi kebaikan bersama, secara partisipatif.
Kita juga tidak boleh melupakan perjalanan panjang layanan transportasi umum sejak era sebelum
Indonesia merdeka, hingga ke titik balik di mana peran masyarakat sebagai pengguna dapat ikut
berpartisipasi menggerakkan perubahan. Alih-alih kritik dan saran yang bersifat melawan atau
menjatuhkan, partisipasi masyarakat dalam tindakan ternyata lebih penting bagi sesama anggota
masyarakat.
Saya mengingat betul bagaimana sigapnya petugas pelaksana dalam melayani masyarakat. Responsif dalam
menjawab pertanyaan tentang rute dan timing kedatangan bus, entah berapa kali layanan
menjawab itu dalam sehari dilakukan, maupun layanan penumpang pada kejadian-kejadian khusus serta
kebutuhan-kebutuhan khusus agar perjalanan tetap berjalan lancar. Transjakarta, MRT, LRT, KA
Commuter, mungkin merupakan layanan publik yang diidamkan oleh warga kota-kota lain di Indonesia.
Mobilitas dan Informasi menjadi esensi untuk tumbuh, berkembang, sehat dan ayem di ruang
urban.
← Back to Discourse